Senin, 10 Desember 2018

Problematika Pendidikan Bahasa Arab IAIN Kediri di Era Industri 4.0

"Problematika Pendidikan Bahasa Arab IAIN Kediri  di Era Industri 4.0"
Oleh : Ana Nailus Sa'adah (932500915) Kelas A
Artikel ini sebagai Tugas UAS mata kuliah E-Learning Program Studi Pendidikan Bahasa Arab di IAIN Kediri

Istilah "Revolusi Industri" diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui di pertengahan abad ke-19. Revolusi industri ini pun sedang berjalan dari masa ke masa. Dekade terakhir ini sudah dapat disebut memasuki fase ke empat 4.0. Perubahan fase ke fase memberi perbedaan artikulatif pada sisi kegunaaannya. Fase pertama (1.0) bertempuh pada penemuan mesin yang menitikberatkan (stressing) pada mekanisasi produksi. Fase kedua (2.0) sudah beranjak pada etape produksi massal yang terintegrasi dengan quality control dan standarisasi. Fase ketiga (3.0) memasuki tahapan keseragaman secara massal yang bertumpu pada integrasi komputerisasi. Fase keempat (4.0) telah menghadirkan digitalisasi dan otomatisasi perpaduan internet dengan manufaktur (BKSTI 2017).
Era Industri 4.0 ini adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada era dimana terjadi perpaduan teknologi yang mengakibatkan dimensi fisik, biologis, dan digital membentuk suatu perpaduan yang sulit untuk dibedakan (Scawab, 2016). Misalnya, dua orang dapat saling berbagi informasi secara langsung dengan bantuan digital tanpa harus berada pada tempat yang sama atau pada waktu yang bersamaan baik secara fisikis maupun biologis. Terjadinya digitalisasi informasi dan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) secara massif di berbagai sektor kehidupan manusia, termasuk di dunia pendidikan, adalah tanda dimulainya era industri 4.0 (Scawab, 2016).
Tantangan dunia Pendidikan Tinggi di Indonesia pada era Industri ini mengacu pada harapan untuk memiliki sumber daya manusia yang bermutu, dapat bertahan, dan berkembang, baik dari dampak perubahan yang muncul dikarenakan inovasi dalam sains maupun teknologi yang terjadi dalam setiap komponen masyarakat.
Samuel Hutington mengungkapkan sebuah teori yakni yang bertahan adalah yang paling berkualitas bukan yang paling kuat, karena yang paling kuat merupakan hukum rimba, sedangkan teori yang bertahan adalah yang paling berkualitas dalam hal ini merupakan hukum (insani) manusia. (Abdullah dkk.2003).
Artinya kesiapan lulusan Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia dalam menghadapi tantangan baik internal maupun eksternal, baik dalam skala lokal (nasional) maupun global (internasional) harus diwujudkan sebagai upaya dalam meningkatkan mutu agar mampu bersaing dalam kancah Internasional dan dapat melahirkan generasi bangsa yang cerdas, berkualitas dan kompetitif khususnya pada era Revolusi Industri 4.0 ini.
Realitanya pada era industri ini terdapat kecenderungan kuat yakni terjadinya daya saing (pasar) yang melanda seluruh komponen kehidupan manusia. Salah satu implikasi era ini terlihat dengan adanya persaingan antar Perguruan Tinggi dalam hal kemajuannya. Maka dalam hal ini peran pendidik (dosen) ialah mendidik peserta didik (mahasiswa) agar menjadi mahasiswa yang mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya, serta menjembatani kepentingan-kepentingan yang terkait, agar output Perguruan Tinggi tidak terpental atau terasing pada era disrupsi dan industri 4.0 ini.
Melihat dari fenomena tersebut, Perguruan Tinggi di Indonesia dituntut untuk dapat mengantisipasi semakin pesatnya perkembangan teknologi yang terjadi dalam era revolusi industri 4.0. Rancangan kurikulum dan metode pendidikan pun harus disesuaikan dengan iklim bisnis, juga jasa pendidikan yang terus berkembang dan semakin kompetitif sehingga menuntut mahasiswa untuk mengikuti perkembangan teknologi dan informasi. Oleh karena itu, perguruan tinggi/ universitas harus bisa mengikuti trend perkembangan teknologi, yang menjadi barometer dalam menangani pendidikan dengan cara mencari metode yang sesuai untuk mengembangkan kapasitas kognitif mahasiswa: higher order mental skills, berfikir kritis dan sistematik, dan menjadi amat penting untuk bertahan di era revolusi industri 4.0.
Dalam konteks Pendidikan Bahasa Arab (PBA) adanya pengembangan kurikulum menjadi sangat penting, baik penyusunan kurikulum bahasa yang baru, maupun penyempurnaan dan pengembangan kurikulum yang telah ada. Kurikulum pembelajaran bahasa di era Industri 4.0 ini tentu lebih kompleks karena harus mempertimbangkan berbagai faktor dan variabel yang terkait dengan filsafat (hakikat dan fungsi) bahasa, aspek sosial budaya, psikologi bahasa, lingkungan sosial politik, sistem pendidikan dan pembelajaran, dan sebagainya.
Pengembangan kurikulum, termasuk standarisasi kurikulum PBA, diyakini sebagai langkah strategis dalam rangka pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan itu sendiri. Berdasarkan sejumlah penelitian, pengembangan kurikulum itu idealnya diorientasikan kepada pemenuhan tuntutan pembangunan dan untuk merespon tantangan globalisasi, dengan tetap mempertimbangkan pro-porsionalitas antara dimensi kuantitas dan kualitas pembelajaran sesuai dengan standar-standar yang dirumuskan.
Dalam daftar kurikulum pembelajaran bahasa Arab terdapat mata kuliah pilihan yang mendukung kompetensi dasar kebahasaan mahasiswa. Mata kuliah pilihan ini yang nantinya akan memberikan pengetahuan serta keterampilan yang berkaitan dengan bahasa Arab sebagai modal untuk menghadapi persaingan global. Masuk pada revolusi industri 4.0, mahasiswa dituntut untuk dapat bersaing dan mempersiapkan orientasi kerja keprofesian semaksimal mungkin. Bagaimana mereka dapat mengatasi tuntutan zaman dengan keahlian dan potensi yang dimiliki. Mengembangkan sesuatu yang dipelajari dan mengkolaborasikan dengan teknologi masa kini.
Adanya perkembangan teknologi dan digital dalam era industri 4.0 diharapkan dapat membantu dan mempermudah dalam segala bidang. Bagaimana semua dikaitkan dengan media-media online sesuai trend masa kini. Semisal penggunaan elektronik dalam pembelajaran (electronic learning/ e-learning), penerjemahan dengan kamus digital, pemaksimalan media visual baca dengan berbasis blog/ web/ jurnal arab, pengevaluasian pembelajaran dengan menggunakan media online seperti halnya UNBK, dan lain sebagainya.
Ketika semua melibatkan media online, secara tidak langsung kita sebagai mahasiswa tidak bisa bersikap pasif dan easy going dengan kemajuan tersebut. Harapannya mampu bereksistensi dan berperan aktif, serta memaksimalkan diri dalam berpartisipasi dengan cara memfilter mana saja yang bernilai positif dan negatif dengan tetap tidak menolak perkembangan teknologi di era revolusi industri 4.0.
Dalam mengatasi hal tersebut, program studi PBA IAIN Kediri sendiri mempunyai beberapa mata kuliah pilihan yang menunjang skill mahasiswa seperti halnya Multimedia, Tarjamah, dan Kewirausahaan. Yang kesemuanya itu bertujuan untuk membekali keterampilan setiap mahasiswa yang berbeda-beda guna mampu bereksistensi dan memaksimalkan diri dalam persaingan dunia terlebih kita berada di era Revolusi Industri 4.0.
Namun kaitannya dengan adanya mata kuliah pilihan sebagai penunjang tersebut masih harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing mahasiswa sesuai dengan keterampilannya untuk berkontribusi dalam menggunakan teknologi. Sebagaimana data hasil wawancara dengan salah satu dosen program studi pendidikan bahasa Arab IAIN Kediri, yaitu Bapak Syamsuddin, bahwasannya proses pembelajaran mata kuliah teknologi (e-learning) misalnya, capaian pembelajaran baik untuk mahasiswa maupun dosen diharapkan mampu menguasai komputer dan aplikasi komputer, sehingga materi mampu berkembang sesuai dengan zamannya. Juga tidak bisa dibatasi bahwasannya lulusan program studi pendidikan bahasa Arab nantinya hanya menjadi guru saja. Jadi harus mempersiapkan skill yang benar-benar matang baik soft skill maupun hard skill. Kurikulum pembelajaran (e-learning) bahasa Arab di program studi pendidikan bahasa Arab IAIN Kediri juga belum disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa, karena tiap dosen harus merencanakan tiap materi setiap pertemuannya sendiri, bukan dari pihak program studi. Mata kuliah ini juga belum melibatkan stakeholders manapun karena dari Bapak Dosen sendiri mengajar di program studi pendidikan bahasa Arab baru dalam semester ini, sebelumnya hanya mengajar di Pendidikan Agama Islam saja. Jadi, belum adanya target yang menjadi tuntutan bagi dosen maupun mahasiswa program studi pendidikan bahasa Arab untuk kelanjutan dari perkembangan pembelajaran. Namun, dengan melibatkan stakeholders tersebut merupakan usulan yang bagus sehingga materi atau konten yang disajikan sesuai dan menjawab kebutuhan dari stakeholders.
Daftar Pustaka
Hendra Suwardana. Revolusi Industri 4. 0 Berbasis Revolusi Mental, Jati Unik, Vol. 1, No. 2, 2017.
Kasinyo Harto. Tantangan Dosen PTKI di Era Industri 4.0, Jurnal Tatsqif (Jurnal Pemikiran dan Penelitian Pendidikan) ,Vol. 16, No. 1, 2018.




0 komentar:

Posting Komentar